Pedoman Media Siber

28 Maret 2016 - 14:38:50
Pedoman Media Siber
PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER

Kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers adalah hak asasi manusia yang dilindungi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia PBB. Keberadaan media siber di Indonesia juga merupakan bagian dari kemerdekaan berpendapat, kemerdekaan berekspresi, dan kemerdekaan pers.

Media siber memiliki karakter khusus sehingga memerlukan pedoman agar pengelolaannya dapat dilaksanakan secara profesional, memenuhi fungsi, hak, dan kewajibannya sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik. Untuk itu Dewan Pers bersama organisasi pers, pengelola media siber, dan masyarakat menyusun Pedoman Pemberitaan Media Siber sebagai berikut:

1. Ruang Lingkup


Media Siber adalah segala bentuk media yang menggunakan wahana internet dan melaksanakan kegiatan jurnalistik, serta memenuhi persyaratan Undang-Undang Pers dan Standar Perusahaan Pers yang ditetapkan Dewan Pers. Isi Buatan Pengguna (User Generated Content) adalah segala isi yang dibuat dan atau dipublikasikan oleh pengguna media siber, antara lain, artikel, gambar, komentar, suara, video dan berbagai bentuk unggahan yang melekat pada media siber, seperti blog, forum, komentar pembaca atau pemirsa, dan bentuk lain.

2. Verifikasi dan keberimbangan berita
     a. Pada prinsipnya setiap berita harus melalui verifikasi.
     b. Berita yang dapat merugikan pihak lain memerlukan verifikasi        
         pada berita yang sama untuk memenuhi prinsip akurasi dan            
         keberimbangan.
     c. Ketentuan dalam butir (a) di atas dikecualikan, dengan syarat:
          1. Berita benar-benar mengandung kepentingan publik yang           
              bersifat mendesak;
          2. Sumber berita yang pertama adalah sumber yang jelas                
              disebutkan identitasnya, kredibel dan kompeten;
          3. Subyek berita yang harus dikonfirmasi tidak diketahui                
              keberadaannya dan atau tidak dapat diwawancarai;
          4. Media memberikan penjelasan kepada pembaca bahwa berita  
              tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut yang                
              diupayakan dalam waktu secepatnya. Penjelasan dimuat pada                
              bagian akhir dari berita yang sama, di dalam kurung dan                
              menggunakan huruf miring.
     d. Setelah memuat berita sesuai dengan butir (c), media wajib           
         meneruskan upaya verifikasi, dan setelah verifikasi didapatkan,           
         hasil verifikasi dicantumkan pada berita pemutakhiran (update)           
         dengan tautan pada berita yang belum terverifikasi.
    
3. Isi Buatan Pengguna (User Generated Content)
     a. Media siber wajib mencantumkan syarat dan ketentuan                   
         mengenai Isi Buatan Pengguna yang tidak bertentangan dengan    
         Undang-Undang No. 40 tahun 1999 tentang Pers dan Kode Etik        
         Jurnalistik, yang ditempatkan secara terang dan jelas.
     b. Media siber mewajibkan setiap pengguna untuk melakukan           
         registrasi keanggotaan dan melakukan proses log-in terlebih           
         dahulu untuk dapat mempublikasikan semua bentuk Isi Buatan           
         Pengguna. Ketentuan mengenai log-in akan diatur lebih lanjut.
      c. Dalam registrasi tersebut, media siber mewajibkan pengguna        
         memberi persetujuan tertulis bahwa Isi Buatan Pengguna yang           
         dipublikasikan:
          1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul;
          2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian   
              terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA),       
              serta menganjurkan tindakan kekerasan;
          3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis           
              kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang           
              lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
      d. Media siber memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau    
          menghapus Isi Buatan Pengguna yang bertentangan dengan            
          butir (c). Media siber wajib menyediakan mekanisme pengaduan            
          Isi Buatan Pengguna yang dinilai melanggar ketentuan pada butir            
          (c). Mekanisme tersebut harus disediakan di tempat yang            
          dengan mudah dapat diakses pengguna.
      e. Media siber wajib menyunting, menghapus, dan melakukan          
          tindakan koreksi setiap Isi Buatan Pengguna yang dilaporkan             
          dan melanggar ketentuan butir (c), sesegera mungkin secara             
          proporsional selambat-lambatnya 2 x 24 jam setelah pengaduan             
          diterima.
       f. Media siber yang telah memenuhi ketentuan pada butir (a), (b),  
          (c), dan (f) tidak dibebani tanggung jawab atas masalah yang       
          ditimbulkan akibat pemuatan isi yang melanggar ketentuan         
          pada butir (c).
      g. Media siber bertanggung jawab atas Isi Buatan Pengguna yang    
          dilaporkan bila tidak mengambil tindakan koreksi setelah batas      
          waktu sebagaimana tersebut pada butir (f).
    
4. Ralat, Koreksi, dan Hak Jawab
     a. Ralat, koreksi, dan hak jawab mengacu pada Undang-Undang         
         Pers, Kode Etik Jurnalistik, dan Pedoman Hak Jawab yang           
         ditetapkan Dewan Pers.
     b. Ralat, koreksi dan atau hak jawab wajib ditautkan pada berita        
         yang diralat, dikoreksi atau yang diberi hak jawab.
     c. Di setiap berita ralat, koreksi, dan hak jawab wajib dicantumkan    
        waktu pemuatan ralat, koreksi, dan atau hak jawab tersebut.
     d. Bila suatu berita media siber tertentu disebarluaskan media siber  
         lain, maka:
          1. Tanggung jawab media siber pembuat berita terbatas pada        
              berita yang dipublikasikan di media siber tersebut atau media          
              siber yang berada di bawah otoritas teknisnya;
          2. Koreksi berita yang dilakukan oleh sebuah media siber, juga       
              harus dilakukan oleh media siber lain yang mengutip berita        
              dari media siber yang dikoreksi itu;
          3. Media yang menyebarluaskan berita dari sebuah media siber    
              dan tidak melakukan koreksi atas berita sesuai yang dilakukan     
              oleh media siber pemilik dan atau pembuat berita tersebut,          
              bertanggung jawab penuh atas semua akibat hukum dari                
              berita yang tidak dikoreksinya itu.
       e. Sesuai dengan Undang-Undang Pers, media siber yang tidak          
           melayani hak jawab dapat dijatuhi sanksi hukum pidana denda             
           paling banyak Rp500.000.000 (Lima ratus juta rupiah).
   
5. Pencabutan Berita
     a. Berita yang sudah dipublikasikan tidak dapat dicabut karena          
         alasan penyensoran dari pihak luar redaksi, kecuali terkait          
         masalah SARA, kesusilaan, masa depan anak, pengalaman          
         traumatik korban atau berdasarkan pertimbangan khusus lain          
         yang ditetapkan Dewan Pers.
     b. Media siber lain wajib mengikuti pencabutan kutipan berita dari    
         media asal yang telah dicabut.
     c.  Pencabutan berita wajib disertai dengan alasan pencabutan dan     
         diumumkan kepada publik.
    
6. Iklan
     a. Media siber wajib membedakan dengan tegas antara produk          
         berita dan iklan.
     b. Setiap berita/artikel/isi yang merupakan iklan dan atau isi           
         berbayar wajib mencantumkan keterangan advertorial, iklan,                  
         ads, sponsored, atau kata lain yang menjelaskan bahwa                     
         berita/artikel/isi tersebut adalah iklan.
   
7. Hak Cipta
    Media siber wajib menghormati hak cipta sebagaimana diatur dalam
    peraturan perundang-undangan yang berlaku.

8. Pencantuman Pedoman
    Media siber wajib mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media     
    Siber ini di medianya secara terang dan jelas.

9. Sengketa
    Penilaian akhir atas sengketa mengenai pelaksanaan Pedoman     
    Pemberitaan Media Siber ini diselesaikan oleh Dewan Pers.

Jakarta, 3 Februari 2012
(Pedoman ini ditandatangani oleh Dewan Pers dan komunitas pers di 
Jakarta, 3 Februari 2012).


KEPRI
BINTAN, KABARBATAM.com- Usulan pengajuan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bintan Tahun 2019 telah ditandatangani oleh Bupati Kabupaten Bintan Apri Sujadi. Usulan UMK tersebut sebesar ..