SEDIH...Ini Pesan Pengungsi Rohingya kepada Pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi
Selasa, 19/09/2017 14:38:56
Para pengungsi etnis Rohingya ke posko pengungsian.membutuhkan bantuan makanan dan minuman. (Foto: Sindonews.com)

KABARBATAM.COM- Warga muslim Rohingya yang terusir dari negaranya dan mengungsi ke Bangladesh terus bertambah. Krisis kemanusiaan di negara bagian Rakhine, Myanmar, itu juga seakan memberi penderitaan tak ada habisnya kepada warga Muslim Rohingya.

Para pengungsi tak hanya kehilangan rumah mereka dan terusir dari negaranya, tetapi mereka juga harus berjuang untuk hidup dengan mengungsi ke negara tetangga, yakni Bangladesh.

Tak jarang, selama proses pelarian diri, mereka dihadapkan pada situasi antara hidup dan mati. Bahkan, ada pula yang harus kehilangan nyawa ketika harus menyeberangi laut dengan perahu seadanya menuju ke negara tetangga.

Meski berbagai bukti sudah menunjukkan tengah terjadi pembersihan etnis di sana, sebagaimana disampaikan oleh Ketua Dewan HAM PBB, namun pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi tetap membantah hal tersebut. Suu Kyi mengatakan bahwa ada pihak yang disebutnya sebagai teroris yang berada di balik situasi saat ini.

Dalam sebuah pernyataan terbuka, dia menyampaikan bahwa pemerintah masih mencari tahu apa masalah yang sebenarnya dialami warga muslim Rohingya.

Dia juga menyebut bahwa mayoritas warga muslim Rohingya tidak terkena dampak kekerasan yang terjadi di desa-desa mereka, meski bukti menunjukkan sebaliknya.

Sementara itu, para pengungsi yang berhasil membebaskan diri dari kekerasan tersebut mulai buka suara. Mereka menyatakan bahwa penolakan terhadap mereka membuat mereka harus rela kehilangan rumah dan anggota keluarga di tempat yang sudah ditinggali oleh pendahulu mereka sejak beberapa generasi.

Dilansir dari laman CNN, Selasa (19/9/2017), wartawan berhasil mewawancarai empat pengungsi Rohingya yang melarikan diri ke Bangladesh. Mereka menyuarakan isi hati hingga menyampaikan pesan khusus ditujukan kepada pemimpin Myanmar, Suu Kyi.

Baser (45 tahun) merupakan tetua desa yang sebelum mengungsi pernah mendorong orang-orang di desanya agar tetap tenang dan tidak melawan. Dia juga menyalahkan Suu Kyi atas kejadian ini dan menegaskan bahwa dialah satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab atas krisis ini.

"Apa yang dilakukan Aung San Suu Kyi sangat tidak baik. Saya bahkan tidak punya kata-kata lain untuk menggambarkan kekerasan yang terjadi. Sebagai pemimpin, Suu Kyi jelas-jelas menyiksa kami. Dialah yang seharusnya bertanggung jawab atas kekerasan ini," aku Baser.

Pengungsi lain adalah Asma (40 tahun). Dia baru tiba di Bangladesh minggu lalu bersama keluarganya setelah melarikan diri dari desanya di Rakhine bagian utara, Maungdaw. Kini, Asma tinggal bersama tiga keluarga lain di tempat penampungan PBB, Katupalong.

Asma mengungkapkan dulunya dia sempat mempercayai perkataan Suu Kyi. Namun dirinya tidak menyangka, kini Suu Kyi malah menyerang mereka balik dengan memanfaatkan pasukan pemerintah.

"Kami mempercayai kata-kata Aung San Suu Kyi, tapi dia menyiksa kami dengan memanfaatkan militer dan polisi. Mereka menangkap, membunuh, dan membakar kami hingga sekarang mengusir kami dari negara sendiri," ungkapnya.

"Kami hanya ingin mengatakan kepadanya bahwa dia harus menerima kami sebagai Rohingya, dan biarkan kami bergerak dengan bebas. Biarkan juga orang lain mengunjungi kami," lanjutnya.

Sementara itu, pengungsi lain bernama Nurun Nahar (45 tahun) yang baru tiba di Bangladesh Kamis lalu meminta agar Suu Kyi mengembalikan desa mereka.

"Kami menuntut Aung San Suu Kyi untuk mengembalikan kami ke negara kami, desa kami, rumah kami, dan semua barang milik kami. Dia tidak berhak menjaga kami dalam situasi ini," tegasnya.

"Jika dia ingin kami kembali, dia harus membiarkan kami hidup dalam damai, dan berjanji kepada kami bahwa dia tidak akan memulai kekerasan ini lagi di masa depan," tambahnya.

Pengungsi terakhir yang diwawancarai bernama Jhuno. Jhuno mengungkapkan perjuangan dia selama melarikan diri dari desanya. Dia bahkan melukai lututnya sendiri selama perjalanan menegangkan itu hingga menyebabkan dia tak bisa duduk atau berjalan dengan benar sekarang.

Nenek 80 tahun itu mengatakan bahwa dia memiliki enam anak dan satu cucu. Suaminya sudah lama meninggalkan dia dan dia juga kehilangan anak lelaki satu-satunya.

"Kami pikir Aung San Suu Kyi akan memberi kami kedamaian, tapi dia gagal melakukannya. Hanya kekerasan yang kami dapatkan, terlalu banyak kekerasan. Bahkan anak 12 tahun tidak bisa keluar rumah atau berjalan dengan bebas," tuturnya.

"Kami datang ke Bangladesh karena kehidupan di desa kami sangat berbahaya. Peluru terbang seperti hujan setiap hari," lanjutnya.

Editor  : Andi Cahyadi
Tags
   
   internasional
BP BATAM
BATAM, KABARBATAM.com- Badan Pengusahaan (BP) Batam memberikan penghargaan dan apresiasi kepada perusahaan PMA yang telah berkonstribusi dalam membangun dan memajukan perekonomian ..
KEPRI
BATAM, KABARBATAM.com- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meresmikan beroperasinya KEK Galang Batang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (8/12/2018). Realisasi ..