Ini Pasukan Khusus TNI yang Siap Bantu Polri Berantas Teroris
Selasa, 15/05/2018 15:13:13
Pasukan Sat-81 Kopassus (kiri) bersama pasukan Denjaka saat latihan gabungan beberapa waktu lalu. (Foto: Jitunews)

JAKARTA, KABARBATAM.com- Kepala Polri Jenderal Pol Tito Karnavian menegaskan bahwa Polri mendukung pelibatan TNI dalam upaya pemberantasan terorisme. 
Pelibatan TNI perlu diatur dalam revisi UU Anti-Terorisme yang tengah dibahas DPR dan pemerintah. Hal ini disampaikan Kapolri dalam jumpa pers di Mapolda Jawa Timur, Senin (14/5/2018). Kapolri mengaku sudah menyampaikan sikap pribadinya maupun keputusan resmi Polri soal rencana pelibatan TNI kepada Presiden Joko Widodo, Menko Polhukam Wiranto, dan Panglima TNI Laksamana Hadi Tjahjanto. 

"Polri tidak keberatan untuk rekan-rekan TNI bergabung bersama kita. Saya pribadi sebagai Kapolri setuju teman-teman TNI dilibatkan penanganan terorisme," ucap Kapolri. 

"Kita memiliki musuh bersama. Kita yakin kebersamaan TNI-Polri akan lebih baik. Kita yakin bisa atasi kelompok-kelompok ini," tambahnya. 

Kapolri mengatakan, detail soal pelibatan TNI nantinya akan diatur dalam peraturan presiden. Hal itu akan mengacu pada UU TNI. Sebelumnya, Menko Polhukam Wiranto mengatakan, ada dua poin yang mandek pembahasannya dalam revisi UU Anti-Terorisme, yakni soal pelibatan TNI dan definisi terorisme. Menurut Wiranto, kedua poin itu kini sudah mencapai kesepakatan. Dengan demikian, UU itu diharapkan segera disahkan.

Sekadar diketahui, TNI memiliki beberapa pasukan satuan khusus dalam menanggulangi aksi teror termasuk keahlian dan kemampuan dalam satuan intelijen tempur. 

Berikut adalah pasukan elite TNI dalam penanggulangan teror;

1. Detasemen Khusus 81 Kopassus (TNI AD) atau lebih dikenal dengan nama Sat-81 yang dulunya disebut sebagai Den-81 Gultor (Penanggulangan Teror). Pasukan ini dibentuk pada 30 Juni 1982. Latar berlakang dibentuknya Sat-81 berawal dari keberhasilan Komando Pasukan Sandi Yudha (Kopassandha/kini Kopassus) melakukan pembebasan sandera oleh teroris yang membajak pesawat Garuda DC-9 Woyla di Thailand pada 31 Maret 1981. 

Operasi Kopassandha tersebut di bawah komando Benny Moerdani yang kala itu menjabat sebagai kepala Badan Intelijen Strategis (BAIS) ABRI. 

Komandan pertama Sat-81 adalah Luhut Binsar Panjaitan dan wakilnya adalah Prabowo Subianto. Di masa awal pembentukan Sat-81 Luhut dan Prabowo dikirim ke GSG-9 (Grenzschutzgruppe-9) Jerman untuk mempelajari upaya penanggulangan teror. 

Ciri khas dari pasukan ini adalah bergerak dalam unit kecil dengan durasi penyelesaian singkat dalam menanggulangi serangan teroris. Sebagaimana visi dan misinya, yakni; tidak diketahui, tidak terdengar, dan tidak terlihat. 

2. Detasemen Jalamangkara (TNI AL) atau dikena dengan nama Denjaka merupakan detasemen khusus penanggulangan teror aspek laut. Denjaka merupakan gabungan personel terbaik dari dua pasukan khusus TNI AL, yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) Korps Marinir. 

Denjaka dibentuk pada 13 November 1984. Kemampuannya tak hanya untuk bertempur tetapi juga sebagai satuan intelijen tempur handal. Sebagai unsur pelaksana, prajurit Denjaka ditutut memiliki kesiapan operasional mobilitas kecepatan, kerahasiaan, dan pendadakan yang tertinggi serta medan operasi yang berupa kapal-kapal, instalasi lepas pantai dan daerah pantai. 

Pasukan yang dijuluki hantu laut ini juga memiliki keterampilan mendekati sasaran melalui laut, vertikal, dan udara. 

3. Satuan Bravo 90 (TNI AU) atau yang dikenal dengan Satbravo-90 (sebelumnya Detasemen Bravo 90) merupakan satuan pelaksana operasi khusus Korps Pasukan Khas (Kopaskhas) yang berkedudukan di bawah Komandan Korpaskhas. Satbravo-90 dibentuk sekitar tahun 1990 pada era kepemimpinan Marsma TNI Maman Suparman selaku Komandan Puspakhas saat itu. 
 
Adapun Polri memiliki pasukan Detasemen Khusus 88 (Densus 88) Antiteror  
4. Detasemen Khusus 88 Antiteror (Polri) atau Densus 88 dirintis oleh Gories Mere dan diresmikan pada 26 Agustus 2004 oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Jenderal Polisi Firman Gani. Densus 88 ditugaskan untuk menangani segala macam ancaman teror, dari teror bom hingga penyanderaan. Agung Pambudhy/detikcom.

Komposisi tim ini terdiri dari ahli investigasi, ahli bahan peledak sebagai penjinak bom, dan unit pemukul yang di dalamnya terdapat ahli penembak jitu. Sejumlah operasi yang pernah sukses dilakukan oleh Densus 88 diantaranya, penggerebekan buronan Dr Azhari di Kota Batu Malang, Jawa Timur pada 2005. Penangkapan Yusron Mamudi alias Abu Dujana di Banyumas, Jawa Tengah dan Pengepungan teroris di Kampung Kepuhsari, Jebres, Solo. Dalam operasi ini 4 teroris tewas, salah satunya adalah Noordin M Top.


Sumber  : kcm/dtc
Editor  : Aan Sahputra
Tags
   
   nasional-
BP BATAM
BATAM, KABARBATAM.com- Acara pembukaan Kejuaraan Nasional Bandung Karate Club (BKC) 2018 bersama Badan Pengusahaan (BP) Batam dibuka dengan resmi oleh Anggota 4/Deputi Bidang Pengusahaan Sarana ..
KEPRI
BINTAN, KABARBATAM.com- Usulan pengajuan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bintan Tahun 2019 telah ditandatangani oleh Bupati Kabupaten Bintan Apri Sujadi. Usulan UMK tersebut sebesar ..