Kerusakan Paling Dahsyat Pascagempa Sulteng Terjadi di Balaroa dan Petobo
Senin, 01/10/2018 21:10:48
Kondisi jalan rusak akibat dampak gempa di Perumnas Balaroa, Palu Barat, Sulawesi Tengah (Sulteng). (Foto: Tirto)

BATAM, KABARBATAM.com- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu menyebutkan bahwa kerusakan paling dahsyat pascagempa bumi dan tsunami yang melanda Palu dan Donggala, terjadi di Kelurahan Balaroa dan Kelurahan Petobo. Kerusakan juga terjadi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng).
 
Menurut BPBD Kota Palu, hampir seluruh rumah dan fasilitas publik di dua kelurahan tersebut tertimbun tanah bak ditelan bumi. Ribuan orang diperkirakan masih tertimbun tanah bersama bangunan di dua lokasi. 

"Kami belum identifikasi di Perumnas Balaroa dan Kelurahan Petobo karena lokasinya sangat parah," kata Kepala BPBD Kota Palu Fresly Tampubolon di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (1/10/2018). Lurah Balaroa, Rahmatsyah, mengatakan, kawasan permukiman ini merupakan salah satu permukiman yang paling parah terdampak gempa. 

Dia menjelaskan, ada sekitar 900 kepala keluarga yang tinggal di kawasan ini. Hampir seluruh rumah di perumahan ini hancur dan amblas hingga 20 meter. Tercatat, lanjut Rahmatsyah, ada sekitar 90 warga yang diketahui tertimbun reruntuhan rumah. 

Semburan air hingga masjid bergeser. Sementara itu, menurut sejumlah saksi, beberapa detik setelah gempa bermagnitudo 7,4 SR mengguncang Palu, terlihat semburan air yang cukup tinggi di kelurahan itu lalu tiba-tiba permukaan tanah menurun sehingga ikut menarik seluruh benda di atasnya. 

Bahkan, beberapa bangunan seperti masjid bergeser jauh sekitar 50 meter dari posisi semula. "Istri dan anak-anak saya tidak bisa diselamatkan. Saya perkirakan mereka terperangkap dalam rumah lalu digulung tanah," kata Husnan, salah seorang keluarga korban. 
 
Saat kejadian, Husnan sedang berada di kantor, sedangkan istri dan anak-anaknya ada di rumah. Kondisi yang sama juga terjadi di Kelurahan Kawatuna. Namun di lokasi itu disertai air sehingga belum memungkinkan disentuh oleh tim penanggulangan bencana. 

Wakil Wali Kota Palu Sigit Purnomo Said mengatakan belum tersentuhnya dua titik bencana terparah itu karena akses yang terputus. Sigit mengatakan, tim penanggulangan bencana memprioritaskan lokasi bencana yang dapat dijangkau cepat. 

Hingga hari ketiga pascagempa, jumlah korban meninggal dunia disebut telah mencapai 1.203 orang, sedangkan titik pengungsian mencapai ratusan lokasi yang tersebar di berbagi wilayah di Sulteng. 

Pencarian Tetapi Dilakukan di Malam Hari

Sementara itu, proses evakuasi terhadap para korban yang diduga masih tertimbun reruntuhan bangunan tetap berlanjut hingga malam hari.

"Evakuasi masih ada (berlangsung) di lapangan, masih bekerja. Evakuasi dilakukan meski malam hari," kata Kapendam XIII Merdeka Kolonel Inf M Tohir di Korem 132 Tadulako, Senin (1/10/2018).

Adapun jumlah korban meninggal menurut catatan Satgas penanganan bencana gempa dan tsunami Sulawesi Tengah (Sulteng) terus bertambah. "Kemudian yang luka bertambah menjadi 799 orang, kemudian hilang 99 orang. Rumah yang rusak 65.733 unit," kata M Thohir. 

M Tohir menambahkan, penanganan jumlah pengungsi saat ini mencapai 59.450 orang. Puluhan ribu pengungsi ini tersebar hingga 109 titik di seluruh wilayah di Sulawesi Tengah. Ditambahkannya, logistik untuk korban gempa masih terus berdatangan menuju Palu. (*)



Sumber  : dtc/kcm
Editor  : Anwar
Tags
   
   daerah
BP BATAM
BATAM, KABARBATAM.com- Badan Pengusahaan (BP) Batam memberikan penghargaan dan apresiasi kepada perusahaan PMA yang telah berkonstribusi dalam membangun dan memajukan perekonomian ..
KEPRI
BATAM, KABARBATAM.com- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution meresmikan beroperasinya KEK Galang Batang, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau, Sabtu (8/12/2018). Realisasi ..