RSUD Embung Fatimah Kerap Kekosongan Obat, Ini Tanggapan DPRD Kota Batam
Sabtu , 08/12/2018 18:20:00
Anggota DPRD Kota Batam Riky Indrakari. (Foto: wartasumbar)

BATAM, KABARBATAM.com- DPRD Kota Batam memberikan perhatian terhadap kondisi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah yang kerap mengalami kekosongan obat. Tanggapan atas kondisi tersebut datang dari Komisi IV DPRD Batam. 

Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam Riky Indrakari mengatakan, sering merekomendasikan Direktur RSUD terdahulu hingga sekarang agar mengeluarkan surat edaran larangan membuat resep obat keluar apotek RSUD kecuali atas sepengetahuan pejabat yang diberikan kewenangan.

Surat edaran yang dimaksud terdiri dari beberapa pasal sanksi. Hal itu sangat penting sehingga memperkecil peluang praktek fraud pada setiap unit layanan rumah sakit.

"Sepatutnya RSUD mematuhi Perda Rumah Sakit Kota Batam terkait transparansi publik terkait pelayanan prima yaitu kewajiban menempatkan dashboard informasi pelayanan, baik informasi ketersediaan ruang rawat, ruang ICU atau ICCU dan obat-obatan medis," ujar Riky, belum lama ini.

Ia mengatakan, sejak Direktur RSUD terdahulu hingga sekarang pada setiap Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Kantor DPRD atau ketika sidak ke RSUD selalu dipertanyakan. Apalagi RSUD sejak awal sudah dilengkapi Sistem informasi manajemen rumah sakit (SIMRS) Terintegrasi menuju Digital Hospitality.

"Sistem ini yaitu pengelolaan informasi seluruh kegiatan rumah sakit sehingga dapat membantu setiap proses manajemen dalam pengambilan keputusan," kata Riky.

Ia mengaku kecewa karena sampai hari ini SIMRS belum difungsikan secara optimal. Apalagi untuk diintegrasikan dalam satu kesatuan sistem. Sebelumnya, keluarga seorang pasien BPJS yang menjalani rawat inap di RSUD Embung Fatimah mempertanyakan kebijakan pihak rumah sakit yang meminta para pasien untuk membeli obat keluar yakni di apotek yang telah ditentukan.

"Sudah berapa kali mertua saya dirawat di RSUD, selalu ada obat yang harus dibeli keluar, itupun apoteknya langsung ditunjuk," kata Herma, keluarga pasien.

Herma mengatakan mertuanya kebetulan mengidap penyakit Asma, yang sering kambuh. "Jadi kalau kambuh memang harus dibawa ke rumah sakit dan paling cepat tiga hari menjalani rawat inap," kata Herma. Setiap kali berobat ke RSUD, seringkali obat  tidak ada di rumah sakit dan harus dibeli keluar. "Makanya kami bingung, kok beli di luar," kata Herma.

Direktur RSUD EF dr.Any Dwiana mengaku dirinya baru mengetahui informasi tersebut. "Nanti kami cek dulu, kamar berapa pasiennya?" tanya Any. Ia tidak memberikan jawaban jelas mengenai kekosongan obat tersebut dan kenapa harus beli obat ke luar. (*)


Editor  : Andi Cahyadi
Tags
   
   parlemen
BP BATAM
BATAM, KABARBATAM.com- Badan Pengusahaan (BP) Batam menggelar Dialog Investasi dengan para pelaku usaha di Batam, Jumat (15/2/2019). Dialog yang menghadirkan Kepala BP Batam Edy Putra Irawady ..
KEPRI
BATAM, KABARBATAM.com- Sejumlah Unsur KRI Jajaran Komando Armada (Koarmada) I TNI AL dalam sepekan terakhir berhasil menangkap delapan kapal kargo dan kapal tanker asing. Ke delapan kapal tersebut ..