Migas Beri Kontribusi 23,90% terhadap Realisasi Ekspor Kepri
Selasa, 05/02/2019 19:57:05
Aktivitas di Pelabuhan Batuampar Kota Batam.

BATAM, KABARBATAM.com- Kontribusi pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau (Kepri) terhadap nasional terus mengalami peningkatan. Pada Januari hingga Desember 2018, kontribusi pertumbuhan ekonomi Batam sebesar 4,24 persen. Naik dari tahun sebelumnya sebesar 3,74 persen.   

Kontribusi tersebut tak lepas dari kinerja ekspor di Kepri, khususnya Batam sebagai lokomotif perekonomian Kepri. Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) mencatat, realisasi ekspor Kepri pada Januari hingga Desember 2018 yakni USD13.280,26 juta. 

Angka tersebut meningkat 8,18 persen dibanding periode yang sama tahun 2017 yaitu sebesar USD12.276,20 juta. 

"Naiknya nilai ekspor tahun 2018 dipicu naiknya ekspor di sektor migas menyumbang 23,90 persen dan sektor non migas berkontribusi 1,8 persen. Kontribusi sektor migas umumnya berasal dari gas," ungkap Ina Primiana, Sekretaris I Pengurus Pusat ISEI, dalam Seminar Nasional bertajuk Meningkatkan Daya Saing Ekonomi Daerah untuk Mendorong Ekspor Nasional di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, belum lama ini. 

Kontribusi perekonomian Kepri bagi nasional kaitannya dengan kegiatan ekspor, kata Ina, juga tak lepas dari kontrubisi industri manufaktur Kepri yakni 36,75 persen. Di mana rata-rata nasional yakni sekitar 20,16 persen.

Dalam catatan ISEI, kata Ina lagi, industri sektor makanan juga meningkat 39,36 persen. "Industri komputer barang elektronik dan optik meningkat 21,49 persen, serta industri pakaian juga meningkat 18,86 persen," ujarnya.  

Ina mengatakan, Kepri, khususnya Batam punya potensi besar dalam mengembangkan potensi wilayahnya, terutama industri berorientasi ekspor. Kepri mampu menyumbang 7,8 persen kegiatan ekspor untuk PDB bagi nasional.  

Meski demikian, kontribusi pertumbuhan ekonomi Kepri itu, khususnya Batam belum cukup mampu mendongrak kontribusi ekspor terhadap nasional. Konstribusi ekspor Batam terhadap ekspor nasional rata-rata sebesar 5%.  Angka tersebut masih jauh dari harapan bila dibandingkan dengan potensi, kebijakan, dan segala ketersediaan infrastruktur yang ada.

Sekadar diketahui, Batam mempunyai sedikitnya lima infrastruktur pelabuhan ekspor yaitu Pelabuhan Batuampar, Belakangpadang, Hang Nadim, Kabil/Panau, Pulau Sambu, dan Sekupang. Meski demikian, konstribusi ekspor Batam terhadap ekspor Provinsi Kepri terbilang masih tinggi, rata-rata sebesar 74%. 

"Artinya keberadaan Kota Batam sangat signifikan memberikan konstribusi pada perekonomian Provinsi Kepulauan Riau," ujar Ina. 
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kepri Gusti Raizal Eka Putra mengatakan, pertumbuhan ekonomi Kepri dan juga kontribusinya bagi nasional perlu didorong lagi. Termasuk kontribusi ekspor bagi nasional. 

"Bila ada hambatan kita cari solusi bersama-sama. Kegiatan ekspor juga penting dalam menopang perekonomian. Selain itu, dibutuhkan koordinasi yang lebih intens antar stakeholders agar ekspor Kepri, khususnya Batam terus meningkat," ujarnya. 

Zarefriadi, Asisten Bidang Administrasi Umum Pemko Batam, menambahkan, Batam terus berbenah, salah satunya membangun infrastruktur guna mendukung kegiatan ekspor dan juga industri, termasuk sektor pariwisata.  

"Pembangunan infrastruktur jalan yang dibangun Pemko bersifat antisipatif untuk jangka panjang ke depan. Infrastruktur ini juga menjadi penunjang utama dalam memacu daya saing ekonomi daerah," ujarnya. 

Dikatakan Zarefriadi, pembangunan infrastruktur jalan tak hanya di pusatkan di kota, tetapi juga sampai ke kelurahan. Bahkan untuk mendukung daya saing ekonomi daerah, Pemko Batam mengalokasikan anggaran infrastruktur hingga ke kelurahan. "Tahun ini nilanya Rp1,3 miliar per kelurahan. Ditambah lagi APBN sebesar Rp350 juta," ujarnya. 

Sementara itu, kinerja investasi di Batam juga mengalami peningakatan yang signifikan. Direktur Lalu Lintas Barang Badan Pengusahaan (BP) Batam, Tri Novianto Putra, mengatakan, sampai dengan semester I 2018, terdapat 40 Penanaman Modal Asing (PMA) yang masuk di Batam. 

"Realisasi investasi dari 40 PMA tersebut mencapai USD272,876.90. Adapun rencana investor yang akan masuk ke Batam yakni 120 PMA dengan nilai investasi mencapai USD391,853.300," ujar Tri. 

Tri menambahkan, hingga semester II 2018, sudah terealisasi 525 proyek baru dengan nilai investasi Rp860,48 triliun melalui perizinan OSS. "Adapun realisasi ekspor Batam hingga Agustus 2018 mencapai USD6,231.54 juta," ujar Tri. 

Sementara itu, Ketua Indonesia National Shipowners Association (INSA) Batam, Oesman Hasyim, masih banyak potensi Batam yang belum tergarap secara maksimal. Di antaranya industri-industri yang berbasis maritim dan kelautan.

"Kita memiliki potensi 200 triliun di sektor laut dan maritim, di dalamnya termasuk perikanan. Ini yang belum digarap secara maksimal. Pahahal kita punya kemampuan untuk menggarap industri itu untuk meningkatkan daya saing ekonomi kita," ujarnya. 

Oesman berharap agar arah dan kebijakan ekonomi Provinsi Kepri juga mampu menggarap sektor kelautan dan maritim. Tak hanya kegiatan offshore, migas, dan non mogas, tetapi juga industri maritim termasuk pariwisata. (*)


Editor  : Anwar Sadat Guna
Tags
   
   bisnis
BP BATAM
BATAM, KABARBATAM.com- Badan Pengusahaan (BP) Batam menggelar Dialog Investasi dengan para pelaku usaha di Batam, Jumat (15/2/2019). Dialog yang menghadirkan Kepala BP Batam Edy Putra Irawady ..
KEPRI
BATAM, KABARBATAM.com- Sejumlah Unsur KRI Jajaran Komando Armada (Koarmada) I TNI AL dalam sepekan terakhir berhasil menangkap delapan kapal kargo dan kapal tanker asing. Ke delapan kapal tersebut ..