Dinas Kebudayaan Lingga gelar FGD kesultanan kerajaan Lingga | Foto : Istimewa

Lingga, KABARBATAM.com – Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga menggelar Forum Group Discussion terkait sejarah Kesultanan di Lingga, untuk mengabadikan dan guna menjadi panduan bagi generasi mendatang tiga orang penulis sedang menggarap riwayat kerajaan di Lingga yang fokus pada seorang Sultan Lingga Riau I yakni Sultan Abdul Rahman Syah, yang rencananya buku tersebut rilis pada Desember 2019 mendatang.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga, Muhammad Ishak mengatakan, jika selama ini banyak orang yang mengetahui riwayat kesultanan Kerajaan Lingga hanya setengah-setengah saja maka dengan dibukukan dan tentunya digali melalui narasumber sejarawan yang benar-benar mengetahui riwayat sejarah, buku tersebut dapat menceritakan riwayat kesultanan dan menjadi pegangan bagi generasi kedepan.

Dinas Kebudayaan Lingga gelar FGD kesultanan kerajaan Lingga | Foto : Istimewa

“Kita ingin sejarahnya utuh dan runut. Jadi, perlu kita gali lebih spesifik lagi dan kemudian kita tulis dan bukukan. Tentu buku ini nantinya akan menjadi catatan penting sebagai pegangan generasi kedepan,” kata Ishak yang juga merupakan Ketua Lembaga Adat Melayu ini pada Forum Group Discussion, di Balai Lembaga Adat Melayu Daik Lingga, Kabupaten Lingga, Rabu (6/11/2019).

Lanjut Ishak, bukan tanpa alasan kerajaan Lingga penting untuk dibukukan dan diabadikan sebab setiap sultan mempunyai ciri khas nya tersendiri dan mempunyai riwayat yang penting untuk diketahui kepada generasi muda baik itu generasi muda Kabupaten Lingga maupun untuk diketahui oleh daerah luar bahkan mancanegara.

“Kenapa riwayat sultan ditulis ?, karena kita ingin sejarah para sultan diterima secara lengkap. Setiap sultan memiliki karakter dan kekhasan masing-masing. Selama ini, kita hanya membaca separoh-separoh dari sejarah yang ada,” kata Ishak.

Masih kata Ishak, kekayaan sejarah budaya dan ragam adat istiadat di Lingga ini tidak kalah setaranya dengan daerah lain seperti Bali dan Jogja, capaian-capaian inilah yang harus dimunculkan kepermukaan agar daerah lain juga tahu bagaimana kekayaan sejarah di Bunda Tanah Melayu ini.

“Masih banyak harapan-harapan dan capaian yang ingin kita raih. Mengingat kekayaan sejarah dan budaya di Lingga yang luar biasa, sejatinya Lingga mampu berdiri sejajar dengan Jogja dan Bali,” kata Ishak.

Pada kesempatan itu Ishak juga menambahkan, jika saat ini narasumber yang mengetahui secara pasti dan spesifik tentang sejarah kesultanan di Lingga sudah hilang dimakan waktu dan berkurang untuk itu ia berharap jangan sampai sejarah itu hilang begitu saja tanpa ada bentuk dan panduan untuk diketahui bagi generasi mendatang. Menurut Ishak saat ini Lingga hanya memiliki 3 (tiga) sejarawan, yakni Lazuardy, Fadhlillah dan Muhammad Hasbi.

Buku Sultan Lingga Riau I – Sultan Abdul Rahman Syah (1812 – 1832) akan diluncurkan pada Desember 2019 mendatang | Foto : Istimewa

“Jadi, kegiatan menulis sejarah harus kita gesa. Agar sejarah tidak hilang ditelan waktu. Sebab wujud benda atau tak benda peninggalan sejarah dapat berbicara ketika peninggalannya dapat dibaca dalam sebuah tulisan” kata Ishak.

Adapun tiga orang penulis buku Sultan Lingga Riau I, yakni Dedi Arman, Anastasia Wiwik Swastiwi dan M. Fadhlillah. Diketahui buku yang berjudul Sultan Lingga Riau I Sultan Abdul Rahman Syah (1812-1832) direncanakan akan terbit dan diluncurkan pada Desember 2019 mendatang.(Fikri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here