Tambak Udang Terbesar Hadir di Lingga, Pasok 6 Ton Per Hari ke Batam

Lingga, Kabarbatam.com– Kampung Marok Kecil mungkin masih asing bagi Anda yang belum pernah ke Provinsi Kepulauan Riau. Kampung ini terletak di Pulau Singkep, Kabupaten Lingga. Pulau ini dahulunya kaya akan pasir timahnya. 

Untuk menempuhnya tidaklah terlalu jauh. Kampung ini berjarak sekitar 30 km dari Dabo, ibukota Kabupaten Lingga. Dabo Singkep merupakan pusat ekonomi warga Lingga, sedangkan Daik adalah pusat pemerintahan Kabupaten Lingga. 

Meski ada beberapa kilometer yang masih berupa jalan tanah. Namun, semua jenis kendaraan roda empat bisa menempuhnya. Perlu waktu sekitar 40-an menit dari Dabo ke kampung yang sunyi itu.

Dibilang sunyi karena pulau ini nyaris tanpa permukiman yang padat. Hanya ada beberapa unit rumah yang dijumpai di sepanjang jalan. 

Namun, di sebalik rapatnya pohon nipah, bakau, dan kesunyian di pulau ini, terdapat tambak udang besar yang sangat menjanjikan di daerah ini. 

Di pulau ini, terdapat beberapa petak tambak udang, yang sejak tiga bulan terakhir dipenuhi aroma kesibukan. Sibuk menata tanah berlumpur, dan membentuknya menjadi tambak. Juga mengisinya dengan air laut, dan menyeimbangkan salinitasnya dengan air tawar. 

Kesibukan yang tiada henti yang dikomandoi Dr Romi Novriadi, ahli udang alumni Amerika, karena PH air di tambak juga harus terus dijaga. 

Sehingga, benur atau jutaan bayi-bayi udang vaname mendapatkan suasana yang nyaman, aman, agar bisa makan dengan tenang. Sehingga, tumbuh, dan berkembang. 

Merawat bayi udang memang repot, ribet, dan harus selalu siaga 24 jam. Hujan deras yang memengaruhi salinitas, dan PH pun hanya diantisipasi. Belum lagi pasokan oksigen yang cukup dari kincir-kincir di setiap sudut tambak, juga tak boleh berhenti. 

Namun, beragam keribetan, dan kecermatan itu setimpal dengan hasil. Dari balik hutan nipah, dan bakau yang sunyi itu, kini dihasilkan puluhan ton udang yang dipanen secara parsial. 

Pemanenan disesuaikan dengan jumlah yang diinginkan pembeli. Usia bayi-bayi udang itu sudah dua bulan, ukurannya pun jadi 70 ekor per Kg. Ukuran yang sesuai dengan permintaan pasar. 

Panen parsial ini disaksikan sejumlah pejabat negara, di antaranya Kepala Staf Kepresidenan RI Bapak Moeldoko, Dirjen Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dr Ir Slamet Soebjakto MSi, dan hadir juga Bupati Lingga Alias Wello, Sabtu (23/11/2019). Dan, menghasilkan uang jutaan rupiah.

Tak heran jika Slamet, menilai tambak yang dikelola Koperasi Garda Terbilang itu, sebagai percontohan di Provinsi Kepri. 

“Kabupaten Lingga punya prospek untuk dikembangkan usaha akuakulturnya,” kata Slamet di lokasi tambak, Sabtu (23/11/2019).

Kini, lori-lori, sebutan untuk truk di wilayah Provinsi Kepulauan Riau, kini mondar mandir dari tambak ke pelabuhan di Dabo, Singkep. Untuk kemudian dibawa ke Batam. Yang perlu udang segar sekitar 6 ton per hari. 

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ir Fini Murfiani MSi pun ikut menyaksikan udang vaname dipanen. 

Dr Romi Novriadi, yang juga Direktur World Aquaculture Society – Asia Pacific Chapter, adalah “dukun” di balik berdirinya pabrik uang di kampung Marok Kecil ini. Selain komitmen kuat dari Bupati Lingga H Alias Wello. 

Alias Wello yang akrab dengan sapaan Awe, berkomitmen mengapungkan kembali kejayaan Lingga. Seperti di masa Kerajaan Riau Lingga, dan era penambangan timah dulu. 

Tambak udang di kampung Marok Kecil, adalah pionir pertambakan udang di Kabupaten Lingga. Area tambak ini terus akan dikembangkan dengan total luas sekitar 836 hektare (ha), menjadikannya sebagai area tambak udang terbesar di Lingga dan Kepulauan Riau. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here