Curah Hujan Minim, BP Batam Antisipasi Penurunan Level Permukaan Air di Semua Waduk

Batam, Kabarbatam.com– Kondisi waduk atau dam di Batam saat ini mengalami tekanan terhadap ketersediaan air di Batam. Minimnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir membuat level muka air di waduk menurun. 

Demikian disampaikan Kepala Kantor Pengelolan Air dan Limbah Badan Pengusahaan (BP) Batam Binsar Panjaitan di Gedung Marketing BP Batam, Kamis (5/12/2019). 

“Saat ini curah hujan, sesuai informasi dari BMKG, bahwa mengalami suatu keadaan cuaca yang dipengaruhi oleh Badai Kammuri yang ada di Filipina sehingga curah hujan teralihkan ke badai yang berlangsung,” ungkap Binsar. 

Hal ini berdampak bagi ketersediaan air di Batam. Kondisi curah hujan, kata Binsar, yang tadinya diharapkan untuk mengisi waduk-waduk di Batam hanya tinggi pada bulan Desember 2019 sekitar 300 milimeter, dan berkurang kembali pada bulan Januari – Februari 2020.

Selayaknya musim hujan diperkirakan terjadi mulai Oktober hingga Desember 2019. Tetapi karena anomali cuaca ini maka intensitas dan curah hujan ini akan terjadi lebih singkat. 

“Waduk-waduk kita sebenarnya cukup untuk menampung, tetapi curah hujannya berkurang. Ini yang kita antisipasi bersama, BP Batam dengan ATB, bagaimana langkah-langkah kita untuk memantau kondisi ini secara berkala setiap 2 minggu atau per bulan,” ungkap Binsar.

“Bagaimana abstraksi ATB yang menggunakan air 3.300 liter per detik ini agar jangan sampai level muka air terus menurun,” ungkapnya. Apabila level permukaan air terus turun, maka BP Batam bersama ATB alan membuat pengatutan pada distribusi air supaya pelayanan kepada masyarakat tidak terganggu.

Himbauan dan sosialisasi penghematan air juga disampaikan kepada masyarakat, di antaranya menampung air hujan untuk digunakan misalnya untuk menyiram taman dan lainnya. 

“Sedangkan air bersih yang dihasilkan oleh ATB digunakan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, misalnya untuk keperluan untuk minum, mandi, mencuci, dan lainnya,” tambahnya. 

Binsar mengatakan, saat ini, lever permukaan air di hampir seluruh waduk di Batam mengalami penurunan. Di Waduk Duriangkang turun sekitar 2,7 meter, Waduk Sei Harapan sekitar 2 meter, dan ada juga sekitar 3 meter. 

“Ini yang coba kita siasati. Ini baru awal saja. Masyarakat tidak perlu khawatir. Tetapi kami juga mulai sosialisasikan ke masyarakat untuk hemat air,” ujarnya. Terkait rencana penggiliran atau rationing, sambung Binsar, belum akan dilakukan. 

“Rationing ini akan terjadi apabila Dam Duriangkang nanti turun menjadi 3,5 meter. Saat ini masih sekitar 2,7 meter. Istilahnya masih antisipasi saja,” pungkasnya. 

Kepala BMKG Hang Nadim Batam Wayan Mustika menambahkan, curah hujan di Kepri saat ini belum merata. Masih banyak di bagian selatan sampai dengan 40 milimeter. Juga di Dabo dan Daik Lingga berdasarkan pantauan satelit. 

Harapannya, kata Wayan, setelah fenomena siklon Kammuri ini selesai maka siklus cuaca normal lagi. Batam bisa kebagian hujan lagi. Wayan mengakui, adanya badai topan Kammuri membuat uang air yang ada di wilayah Indonesia termasuk Kepri teralihkan ke daerah dimana siklon badai Kammuri ini terjadi.

“Di Kepri ada tiga pola; yakni Batam, Ranai, dan Tarempa ini mirip. curah hujamnya lebih rendah. Dibandingkan Dabo, Tanjungpinang, Karimun dan Bintan curah hujannya maaih tinggi,” ungkapnya. 

Sementara itu, Direktur Engineering ATB, Paul Bennettt mengatakan, jika curah hujan turun maka dampaknya pada ketersediaan air di waduk. 

Pada awal tahun 2019, hampir semua air di waduk naik. Namun kemudian surut, seiring meningkatnya penggunaan air di Batam. Jika terjadi penurunan air di Waduk Duriangkang, maka rationing akan dilakukan, khususnya bagi pelanggan WTP Tanjungpiayu.

Jika Waduk Duriangkang mengalami penurunan, kata Paul, dampaknya akan dirasakan 70 persen dari warga Batam. Sekadar diketahui, 74 persen kebutuhan air masyarakat Batam bersumber dari Waduk Duriangkang. Sementara tiap tahun, ada peningkatan kebutuhan air di Batam dengan bertambahnya penduduk Kota Batam.(war)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here