Karantina Karimun Perketat Pengawasan Lalu Lintas Tumbuhan dan Satwa Liar

Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Tanjung Balai Karimun menggelar FGD di Hotel Aston Karimun.

Karimun, Kabarbatam.com – Masuknya Indonesia sebagai negara kedua di dunia terkait jenis spesies satwa yang terancam punah yakni berjumlah 904 spesies, membuat Stasiun Karantina Pertanian Kelas II Tanjung Balai Karimun menyoroti aktivitas penyelundupan tumbuhan dan satwa liar.

Untuk menyikapi hal itu, Stasiun Karantina Kelas II Tanjung Balai Karimun menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Sinergi Pengawasan Lalu Lintas Tumbuhan Satwa Liar dan Langka”, Kamis (13/2/2020), di Ballroom Lantai 7 Hotel Aston Karimun.

Kepala Stasiun Karantina Kelas II Tanjung Balai Karimun, Drh Priyadi mengatakan, ada berberapa fenomena yang menyebabkan kepunahan itu terjadi dia pembukaan lahan pertanian secara masif dengan tidak teratur dan perdagangan satwa secara ilegal.

“Indonesia menjadi negara kedua dengan ragam spesies di dunia yakni sebanyak 370 ribu spesies. Kita juga peringkat kedua untuk tingkat kepunahan,” ujar Drh Priyadi.

Priyadi mengungkapkan alasan pentingnya Forum Discussion Group ini harus diselenggarakan dan mengundang para komunitas serta .

“Selain untuk menjawab berbagai pertanyaan dari para komunitas bagaimana persyaratan pengiriman tumbuhan dan satwa liar dan langka, acara ini juga sebagai langkah untuk mengantisipasi. Dalam acara ini kita hadirkan naras baik dari karantina maupun BKSDA agar pengguna jasa dalam hal ini
komunitas pecinta burung, reptil dan tanaman hias dapat mengetahui secara pasti bagaimana prosedur lalu lintas
tumbuhan dan satwa liar dan langka,” papar Priyadi.

“Selama ini mereka hanya melakukan permohonan ke karantina saja, padahal pemilik juga harus melengkapi dokumen lain di luar karantina seperti, surat angkut tumbuhan dan satwa dalam negeri (SATS-DN) maupun surat angkut tumbuhan dan satwa luar negeri (SATS-LN),” pungkasnya.

Priyadi mengungkapkan negara mengalami kerugian besar dan dalam setiap minggu sejumlah kantor Karantina yang ada di berbagai wilayah di Indonesia melaporkan adanya aktivitas penyeludupan satwa maupun tumbuhan secara ilegal.

“Dalam laporan temen-temen di wilayah lain pasti setiap minggu ada yang diamankan. Rekornya itu sampai 2.300 ekor satwa, dan secara materil, negara mengalami kerugian sebesar 13 triliun dalam setiap tahunnya akibat aksi dan penyeludupan satwa liar tersebut” ungkapnya.

Terakhir, Priyadi mengatakan untuk mengatasi hal tersebut pihaknya memerlukan upaya sinergitas antar instansi terkait dalam menekan upaya penyeludupan dan aksi-aksi ilegal yang lain agar tidak berdampak pada kepunahan spesies satwa dan tumbuhan di Indonesia.

“Pengawasan lalu lintas satwa liar ini perlu bersinergi dengan instansi terkait, mengingat wilayah kita sangat luas, baik itu sinergi dari aparat TNI-Polri dan pihak-pihak lain yang terkait” tutupnya.

Sementara itu, Anes Doni Kepala Bidang Karantina Hewan Hidup, Pusat karantina Hewan dan Keamanan Hayati Hewani yang hadir dalam acara ini mengapresiasi langkah Karantina Pertanian Karimun dalam menjembatani permasalahan yang
dihadapi oleh para komunitas yang ada di Karimun.

“Saya mengapresiasi langkah Karantina Pertanian Karimun, dan kami tentunya bernarap FGD yang diselenggarakam ini dapat memberikan solusi terbaik agar kelestarian flora dan fauna khususnya yang ada di Karimun dapat terjaga dengan baik,dan para komunitas dapat mengikuti sebagaimana peraturan yang
telah ditetapkan” terangnya.

Berdasarkan data IQFAST Karantina Pertanian Karimun, tercatat berbagai pengiriman jenis satwa dalam setiap tahun di antaranya burung pleci kacamata putih pada tahun 2018 adalah 10.616 ekor, sedangkan pada tahun 2019 jumlahnya menurun di angka 2.961 ekor.

Untuk pengiriman tumbuhan jumlahnya lebih sedikit dari pada pengiriman burung. Pada tahun 2018, akar pasak bumi jumlahnya 37 kg dan pada tahun 2019 menjadi nihil atau nol.(Gik)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here