Connect with us

Headline

Bupati Pertama Natuna Menginjak Pulau Panjang: Melompat di Atas Ombak, Tanpa Dermaga

Published

on

IMG 20251130 WA0408
Cen Sui Lan Bupati Natuna bersama rombongan pindah ke perahu nelayan di tengah badai dan ombak laut menuju Pulau Panjang.

Natuna, Kabarbatam.com – Kapal pemerintah menurunkan jangkar di tengah laut, bukan di dermaga. Perairan dangkal dan amuk Angin Barat memaksa rombongan Bupati Natuna Cen Sui Lan berpindah ke pompong nelayan di tengah gelombang tinggi, Sabtu, (29/112025). Hari itu, sejarah Pulau Panjang ditulis bukan lewat sambutan, melainkan lewat lompatan menegangkan di tengah laut.

Kunjungan kerja Cen Sui Lan berubah jadi lakon yang lebih mirip operasi kemanusiaan ketimbang agenda seremonial. Pulau Panjang, yang berada di teras perbatasan Malaysia Timur, bukan destinasi rutin pejabat.

Di pulau ini, 180 kepala keluarga bertahan tanpa puskesmas, tanpa layanan kesehatan memadai, dan dengan konektivitas yang hanya bertumpu pada perahu kecil bermesin.

Lanskap pulau tampak rimbun oleh kebun kelapa, sumber penghidupan utama warga selain melaut. Permukiman terserak, tak berderet rapi. Rumah-rumah berdiri berjauhan dengan halaman luas di tengah rimbunnya kebun. Sunyi kunjungan, tapi tak sepi persoalan.

“Ini perjalanan luar biasa, tapi sudah jadi kewajiban saya sebagai bupati untuk tetap hadir,” ujar Cen di sela pertemuan dengan warga.

Feri milik pemerintah daerah yang membawa rombongan tak pernah benar-benar “tiba”. Kapal berhenti jauh dari garis pantai karena air terlalu dangkal. Dari situ, berlangsung adegan mid-sea passenger transfer pemindahan penumpang dari kapal ke pompong nelayan, dengan jaket pelampung terpasang, tali pengaman direntang, dan lompatan yang dilakukan tanpa jeda. Semua berlangsung dalam hitungan menit.

Tekad mereka sekeras hantam Angin Barat. Cen melompat bersama Wakil Bupati Jarmin Sidik, didampingi tiga dokter spesialis, tenaga medis, dan rombongan lain. Ombak memukul lambung perahu berkali-kali, tapi tak memukul surut langkah mereka.

Warga Desa Kerdau, yang harus menempuh laut lebih dari satu kilometer untuk mencapai Pulau Panjang tempat sekolah berdiri, juga setiap hari menantang laut demi mengirim anak-anak mereka ke bangku kelas. Dari SD hingga SMA, fasilitas pendidikan memang sudah lengkap—termasuk Smart TV bantuan pemerintah—tapi akses ke sekolah tetap jadi ujian harian.

Bagi Cen, realitas lapangan berujung pada satu kesimpulan:

“Di sini harus dibangun puskesmas. Pelayanan kesehatan mesti jadi prioritas,” katanya, singkat.

Harga yang Merentang Batas

Di pulau perbatasan, harga kebutuhan pokok punya rumusnya sendiri. Beras SPHP produk subsidi pemerintah—dijual di kedai seharga Rp 75 ribu per kilogram, jauh di atas harga di ibu kota kabupaten. Sebab komoditas seperti gula, minyak goreng, tepung terigu, telur, dan sandang-pangan lain lebih mudah didatangkan dari Pemangkat atau Sematan, lewat jalur laut antarnegara yang secara jarak lebih dekat, tapi secara ongkos lebih panjang.

Ketika pasar murah dibuka rombongan bupati, kerumunan bukan euforia—melainkan refleks bertahan hidup. Beras 5 kilogram seharga Rp 55 ribu per sak ludes dalam hitungan menit. Komoditas lain bernasib serupa.

“Kalau bukan pasar murah, kami sangat terbantu,” ujar seorang warga di tengah antrean.

Jembatan atau Pelabuhan

Di kalangan warga, gagasan jembatan penghubung Kerdau Pulau Panjang kian nyaring. Tapi pemerintah daerah memilih opsi lain: membangun pelabuhan yang bisa disandari kapal besar.

“Pelabuhan akan dibangun,” Cen menegaskan sebuah janji awal konektivitas yang selama ini hanya berupa rute pompong nelayan.

Di setiap kunjungan kerjanya, Cen terus menekankan program perlindungan sosial dan strategi ekonomi pesisir. Mulai asuransi BPJS untuk pekerja rentan, peremajaan kebun kelapa, hingga rencana ekspor rumput laut dan komoditas perikanan. Dalam kunjungan itu, pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan sosial berupa kursi roda, tongkat, zakat mal, dan paket Smart TV untuk pendidikan.

Pulau Panjang tampak sunyi di peta, namun tak sesunyi suara warganya. Kini suara itu menyeberang bukan lagi lewat pompong, tapi lewat laporan yang tertunda lama. Pulau ini juga kini mengingat satu hal, Cen Sui Lan adalah Bupati pertama yang menginjakkan kaki di pulau ini. (Man)

Advertisement

Trending