Connect with us

Batam

Catatan Surya Makmur Nasution: Coffee Morning 20 Tahun Kepri, Masih Sebatas Gimik

Published

on

img 20220925 wa0081
Surya Makmur Nasution.

Catatan Surya Makmur Nasution

PADA pekan ini, tepatnya, Selasa pagi, 20 September 2022, saya mengajak bertemu sesepuh, tokoh dan pelaku usaha di Batam.c,

Kami menyebutnya : “coffee morning”. Kebetulan sudah lama tak bertemu karena kesibukan masing-masing.

Hadir Capt Daniel Burhanudin (Bos Esqarada), Kasimun (mantan Dirut PT Persero Batam), Suhendro Kusumo (mantan Kepala Pelabuhan Batu Ampar Batam) dan Zahir Setiadi (mantan Astra International Technology).

Salah satu topik perbincangannya, tentang perkembangan Kepri dan khususnya Batam. Secara kebetulan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada 24 September 2022, berulang tahun, tepatnya 20 tahun.

Saya ingin mendengar masukan dan pemikiran dari pelaku usaha, tokoh dan mantan pejabat tentang pembangunan Kepri dan khususnya kawasan Batam.

Tentu saja perbincangannya seru. Meski dari usia sudah manula, tapi, gaya dan pemikiran masih seperti anak-anak milenial. Tertawanya lepas dan bersuara kencang.

Hanya saya yang usianya baru berkepala lima. Dibandingkan dengan yang lainnya, saya termuda. Seperti Capt Daniel Burhanudin, sudah berumur 83 tahun, usia kami terpaut 30an tahun.

Namun, usia tak membuat suasana coffee morning sepi alias garing. Pertemuan selama dua jam lebih itu berlangsung meriah, cair, dan happy, dan minus gimik.

Dalam konteks pembangunan Kepri, banyak hal yang diperbincangkan. Salah satunya pengembangan kawasan maritim sebagai fokus peningkatan perekonomian.

Janji politik ingin mengembangkan pengelolaan ruang laut, seperti menjadikan Batam sebagai kawasan transhipment, masih sebatas wacana. Bahkan untuk urusan Pengelolaan labuh jangkar, laid up dll, menjadi rebutan urusan kewenangan pusat daerah.

Seperti dikemukakan Capt Daniel dan Kasimun, sudah saatnya Batam menjadi kawasan transhipment. Sebagai hub untuk perdagangan di kawasan regional, yaitu, dari Batam menuju negara tujuan. Dengan kata lain, perairan Batam tidak sekadar persinggahan.

Tentang janji pemerintah yang akan membangun pelabuhan barang atau cargo berstandar international di Tanjung Pinggir, ternyata hanya isapan jempol belaka. Dibatalkan dibangun dengan alasan tidak memenuhi persyaratan.

Begitu juga wacana pengembangan pelabuhan di Tanjung Sauh, Punggur, juga tidak ada jejaknya lagi. Peletakan batu pertama, landing point jembatan Batam Bintan, masih sebatas seremonial.

Sementara pengembangan Pelabuhan Batu Ampar, sifatnya masih parsial, belum menyeluruh, sebagaimana perencanaannya, belum juga terwujud.

Kemajuan infrastruktur jalan di Batam, tentu diapresiasi, diakui sebagai kemajuan. Hanya saja, jalan yang bagus, tidak berhenti di situ saja karena tidak menjamin kawasan pelabuhan berkembang pesat.

Pandangan Capt Daniel, kawasan pelabuhan Batam harus menjadi fokus para elite pejabat Kepri dan Batam. Kawasan Batam harus menjadi kawasan transhipment dengan harapan agen-agen kapal internasional akan berdatangan ke Batam melakukan perdagangan ke tujuan negara lain (destination). Dengan transhipment lah perekonomian Batam dan Kepri akan bergerak.

Di akhir perbincangan, diskusi tetap saja tergoda soal perilaku politik elit pejabat. Ada kesan yang terlihat, pejabat elit lebih kental nuansa panggung politik kekuasaannya.

Elit berlomba-lomba di mata warga Kepri untuk menjadikan sebagai obyek elektoral, ketimbang memajukan perekonomian warga.

Bila saya diperbolehkan menyimpulkan, kemajuan Kepri masih sebatas gimik para elite pejabat.

#SuryaMakmurNasution Ketua PKB Kota Batam.

Advertisement

Trending