Headline
Dari Job Hugging ke Job Loving: Rahasia Karier Tanpa Baper
DI DUNIA kerja, fenomena Job Hugging lagi ramai di kalangan milenial dan Gen-Z. Mereka terpaksa bertahan dengan karir yang ada karena kondisi ketidakpastian ekonomi ataupun kesulitan cari kerjaan baru. Ini antitesa dibanding beberapa tahun sebelumnya yang marak model kutu loncat (Job Hopping).
Kerja erat kaitannya dengan karir. Ibarat perjalanan, karir adalah cara nyetir. Bisa lurus, berkelok, naik turun, ngerem mendadak, tersesat, lega sesaat hingga penuh duka dan suka.
Berdasarkan pengalaman kerja hingga pensiun, saya ingin berbagi tips sederhana. Agar adek2 yang siap masuk dunia kerja atau baru bekerja, bisa menikmati karir dengan lebih siap.
Inilah 4 (empat) hal yang perlu jadi perhatian, no lalai :
1. Bosan dan Rutin
Banyak yang beranggapan bahwa kerja rutin itu membosankan. Setiap pagi masuk kantor mengerjakan dokumen, rapat, submit laporan yang hampir sama setiap hari, hingga pulang di sore hari.
Kita jadi mudah mengeluh. Terlebih melihat unit sebelah yang sering keluar kota, ketemu pelanggan yang berbeda setiap hari. Bebas haha-hihi. Makin sempurnalah kebosanan ini. Bosan tiba, produktifitas bablas.
Rupanya,
Kita sering salah mendefinisikan rutinitas dan bosan tadi. Harusnya kita lebih konsisten dalam menjalankan tugas. Agar semakin cepat dan semakin ahli di bidang tersebut. Rasa bosan muncul bukan karena rutinitas tadi, tapi karena punya pikiran iseng liat rumput tetangga lebih hejo. Membandingkan yang tidak perlu, bakalan buat otak dan pikiran jadi lekas buntu. Segalanya jadi negatif.
Jadi,
Jika ingin sukses, konsistensi jadi kunci. Agar lebih profesional, lebih paham suatu bidang. Dan, so pasti saat ada peluang karir di bidang tersebut, pastikan kalian yang layak mendudukinya.
2. Atasan dan gayanya
Soal atasan, banyak ragam gaya atasan. Mulai dengan gaya pendiam, penyabar, politikus hingga super-galak termasuk punya pasangan atasan yang lebih galak lagi. Hahaha. Gaya atasan berbeda-beda, tapi percayalah tujuannya sama, yakni target tuntas dengan performance terbaik.
Rupanya,
Sering membawa ke hati saat ketemu atasan yang gak nyaman, ini jadi biang. Atasan dianggap sebagai lawan hanya karena gak suka dengan gaya merintahnya. Sebaliknya, saat ketemu atasan yang pendiam dan sabar, malah jadi pemalas. Merasa aman damai. Gak perlu kerja keras karena cukup ngasi alasan ini itu sebagai jawaban saat gagal mencapai target. Ini bisa jadi biang kekacauan karir.
Jadi
Kita tidak perlu baper apalagi damper (mendam perasaan) jika punya atasan yang jauh beda dengan karakter kita. Semua gaya atasan adalah sumber ilmu luar biasa. Banyak hikmah yang bisa dipetik dari mereka untuk karir ke depan. Percayalah.
3. Tugas baru dan Beban
Kelalaian lainnya, kesal alias tidak sabaran saat mendapat instruksi untuk kerjakan hal baru. Dianggap sebagai beban. Belum selesai yang rutin, eh malah nongol tugas baru. Yang muncul, mengeluh bin malas. Disinilah letak kelalaian yang bisa mengakibatkan dicap kurang kreatif dan cenderung menolak tantangan baru. Apes dah.
Rupanya,
Tugas baru adalah tantangan baru. Tantangan ini yang akan membesarkan kita. Karir moncer justru akan terlihat jelas saat kita berani terlibat langsung dengan banyaknya tantangan. Bukan sebaliknya memilih diam sehingga semakin tenggelam.
Jadi,
Beranikan diri menerima tantangan atau penugasan baru. Buat atasan terpesona dengan batasan2 baru yang kita buat. Tantangan baru, batasan baru.
4. Delegasi dan Ilmu
Saya pernah memimpin unit dengan tim puluhan orang. Bahkan pernah juga punya tim satu orang. Tentu saja saya pernah bekerja sebagai staf paling bawah (saat awal diterima sebagai karyawan baru).
Rupanya,
Saat menjadi atasan sebuah unit, jangan pernah pelit berbagi. Salah satu tugas atasan adalah mengatur dan delegasikan pekerjaan. Empowering istilah kerennya. Kita kadang malas delegasi kerjaan ke tim karena khawatir gak lekas tuntas. Jadinya repot sendiri. Merencanakan, eksekusi, evaluasi, semuanya sendiri. Padahal ada tim. Huh. Rupanya ini salah. Karena kerja itu sejatinya team work.
Jadi
Sebagai atasan harus lebih pandai berbagi. Saat delegasikan tugas jangan lupa berbagi ilmu ke tim. Jangan biarkan mereka terbang kesana-kemari, karena tidak mendapatkan arahan yang jelas. Ingat, gak perlu takut jika suatu saat, tim kita malah jadi atasan kelak. Bukankah tugas seorang pemimpin adalah melahirkan pemimpin baru berikutnya.
—
Job Hugging atau Job Hopping (fenomena kutu loncat), sama-sama pilihan di dunia kerja. Semua ada resikonya. Tergantung kesiapan mental diri menghadapinya. Yang penting, temukan kerjaan yg kamu cintai, Job Loving.
Tabik,
Sabri Rasyid
IG : @sabri.rasyid
-
BP Batam3 hari agoBP Batam di SMF 2026 Singapura: Jadikan Batam Pusat Eksekusi Investasi Tercepat di Asia Tenggara
-
Batam2 hari agoGowes Kolaborasi BFB dan PLN Batam, Dukung Batam Sehat dan Menyala Lebih Terang
-
Batam1 hari agoWakil Kepala BP Batam Tinjau Kondisi 4 Waduk, Pastikan Progres Perbaikan Pipa Distribusi dan Ketahanan Air Terjaga
-
Bintan1 hari agoKJK Hadirkan Menteri Kehutanan Tanam Mangrove di Bintan: Tak Sekadar Berita, Tapi Ikut Mendorong Perubahan
-
Batam2 hari agoBantu Jaga Daya Beli Masyarakat, Makmur Elok Graha Gelar Pasar Murah Artha Graha Peduli di Batam, Rempang dan Galang
-
Batam1 hari agoAksi Sosial dan Bersih Pantai KJK Tuai Apresiasi dari Berbagai Kalangan
-
Bintan2 hari agoSekda Bintan Apresiasi KJK, Aksi Tanam Mangrove Akan Dihadiri Menteri Kehutanan dan Delegasi Jepang
-
Batam1 hari ago‘Spesialis’ Pembobol Rumah Kosong Jaringan Lintas Provinsi Dibekuk Jatanras Polda Kepri



