Batam
Intensitas Perjalanan Kabid P2 BC Batam ke Luar Negeri Disorot, Muhtadi: Tugas Dalam Rangka Koordinasi Keamanan Laut
Batam, Kabarbatam.com – Intensitas perjalanan ke luar negeri yang dilakukan Kepala Bidang Penegakan dan Penyidikan (P2) Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe B Batam, Muhtadi, masih menuai polemik.
Frekuensi perjalanannya ke negeri Jiran dinilai tak lazim dan memantik pertanyaan terkait adanya pertemuan dengan pelaku penyelundupan di Singapura.
Soal intensitas keberangkatannya ke Singapura maupun ke Malaysia bahkan telah santer di kalangan tertentu. “Ada dalam beberapa bulan terakhir, hingga akhir 2025,” ujar seorang sumber.
Perjalanan Muhtadi yang dinilai berulang tersebut kadang menumpang kapal feri, kadang terbang. Ia juga pernah disebut menggunakan tiket pesawat kelas bisnis via Singapura saat kembali ke Batam.
Perjalanan yang berulang tersebut diungkapkan Muhtadi murni dalam rangka dinas. “Ada urusan pekerjaan,” ujarnya. Ia juga memiliki anak yang tinggal di Singapura, sehingga tak heran jika ia menyempatkan waktu menemui anaknya.
“Saya memiliki anak yang tinggal di Singapura. Selain itu, ada beberapa kali saya kehabisan tiket pesawat reguler setelah melaksanakan penindakan di luar kota. Yang tersisa hanya tiket kelas bisnis dengan harga cukup mahal, sehingga saya memilih pulang ke Batam melalui Singapura untuk efisiensi biaya,” katanya.
Dugaan soal pertemuan dengan pengusaha di Singapura muncul di tengah situasi Batam yang sedang ‘panas’ oleh sejumlah isu penyelundupan.
Sekadar diketahui, dalam beberapa waktu terakhir, berbagai kasus dugaan penyelundupan mencuat: mulai dari impor limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), tekstil, onderdil kendaraan mewah, sembako, hingga mesin rokok ilegal ke Jakarta, belum lama ini.
Batam yang berada di wilayah perbatasan dan berhadapan dengan jalur perdagangan dunia, selat Malaka, serta jalur lintas kapal-kapal asing dan dalam negeri menjadi daerah rawan masuknya barang asing dari luar.
Hal ini dinilai menjadi ruang bagi oknum pejabat penindakan melakukan aktivitas termasuk bertemu dengan pelaku yang tersangkut dengan masalah hukum, ataupun pelaku kegiatan ilegal lainnya.
Terkait intensitasnya ke luar negeri, Muhtadi mengaku tidak mengingat jumlah pastinya. Informasi menyebut, ada sekitar 51 kali perjalanan ke luar negeri.
“Kalau ditanya berapa kali saya ke luar negeri, saya tidak ingat. Harus melihat kembali tiket-tiket perjalanan,” katanya. Muhtadi juga membantah tegas dugaan yang mengaitkan perjalanannya dengan pertemuan pihak berperkara atau pelaku penyelundupan barang ilegal.
“Ya Allah itu enggak benar. Kalau saya mau ketemu para penyelundup ngapain saya harus melakukan penertiban,” ujar Muhtadi seperti dilansir Batamnews.co.id. Ia menyatakan, perjalanannya dilakukan untuk urusan yang sah.
Muhtadi juga menolak keras jika disebut bahwa perjalanan ke jiran menggunakan anggaran negara. “Tak pernah pakai uang negara saya keluar negeri. Saya pakai uang pribadi. Jaraknya dekat dan harga tiket masih terjangkau,” ujarnya.
Menurut Muhtadi, perjalanan ke Singapura dan Malaysia berkaitan dengan koordinasi lintas negara terkait keamanan dan penindakan.
Ia menyebut Bea Cukai pusat telah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara tetangga. “Apalagi sudah diatur, setiap tiga bulan harus ada koordinasi tentang keamanan di laut,” ujarnya.
Selain urusan dinas, Muhtadi mengakui sebagian kunjungan ke Singapura berkaitan dengan urusan keluarga. Anak Muhtadi disebut bekerja dan tinggal di Singapura, sehingga ia kerap datang pada akhir pekan atau hari libur.
“Karena anak saya bekerja dan tinggal di Singapura, makanya saya sering ke sana saat akhir pekan,” katanya. Muhtadi juga menyatakan koordinasi dengan otoritas kepabeanan Singapura dan Malaysia berkontribusi pada pengungkapan kasus.
Ia menyebut sepanjang 2025 terdapat 52 kali penindakan kasus narkotika dan beberapa penindakan besar didapat dari informasi negara tetangga. “Beberapa tangkapan besar kami dapatkan dari informasi customs negara tetangga,” ujarnya.
Keterangan Muhtadi sejalan dengan penjelasan internal Bea Cukai Batam. Kepala Bidang Bimbingan Kepatuhan dan Layanan Informasi (BKLI), Evi Octavia, membenarkan adanya perjalanan luar negeri Kabid P2 dan menyebutnya terkait urusan kerja.
“Kabid P2 ke luar negeri, ke Singapura dan negara tetangga lainnya, itu terkait urusan kerja, seperti kerja sama antar-customs dan patroli lintas negara,” kata Evi. Evi menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir Bea Cukai Batam memang mengintensifkan patroli laut bersama otoritas kepabeanan Malaysia dan Singapura sebagai bagian dari pengawasan dan penindakan aktivitas ilegal lintas batas.
Meski ada bantahan, publik menunggu penjelasan yang lebih terukur: berapa jumlah perjalanan sebenarnya, kapan dilakukan, apa dasar penugasannya, kemudian jika hal itu dalam rangka tugas tentunya menggunakan uang negara, berapa besar anggaran yang digunakan, termasuk publikasi kegiatan lintas negara dalam upaya pencegahan kejahatan di batas negara, Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Termasuk berapa durasi perjalanan baik ke Singapura dan Malaysia. (*)
-
Natuna2 hari agoWFH Segera Diterapkan untuk ASN Pemkab Natuna
-
Uncategorized @id23 jam agoAde Angga Terpilih Aklamasi sebagai Ketua Umum DPD Partai Golkar Kepri
-
Batam2 hari agoAtasi Sampah dari Hulu ke Hilir, Wali Kota Amsakar Fokuskan Kajian Berbasis Data
-
Batam1 hari agoWali Kota Amsakar Tegaskan Perda LAM Harus Berpihak pada Pelestarian Adat Melayu
-
Ekonomi1 hari agoIbadah Haji Tenang dengan Paket RoaMAX Haji Telkomsel, Kuota hingga 42GB, Termasuk 2GB di Indonesia +1GB di 13 Negara Transit
-
Headline2 hari agoPulau Penyengat, Jembatan Lintas Generasi Menuju Pariwisata Berkelanjutan
-
Headline1 hari agoDari Kesetaraan Menuju Dampak, Telkom Dorong Perempuan Ambil Peran di Garis Depan Kepemimpinan
-
Batam6 jam agoPemprov Kepri Perjuangkan Keseimbangan Fiskal dalam Pertemuan dengan DPD RI



