Connect with us

Headline

Ketika Gurita Jadi Rezeki Utama Nelayan Natuna di Musim Angin Utara

Published

on

Img 20251104 wa0148
Nelayan Natuna dengan hasil tangkapan melautnya berupa gurita.

Natuna, Kabarbatam.com – Di musim angin utara, nelayan Sepempang tak melaut jauh. Mereka menyelam di laut dangkal, mencari gurita yang kini harganya sedang naik.

Di balik terumbu karang, tersimpan rezeki dari laut Natuna yang selalu memberi kehidupan.

Kenaikan harga gurita di pasaran membuat nelayan Natuna berbondong-bondong turun ke laut. Musim cuaca cerah dimanfaatkan untuk menyelam dan menangkap gurita di perairan dangkal, terutama saat angin utara mulai bertiup.

Madi, nelayan asal Desa Sepempang, menuturkan harga gurita ukuran besar kini menembus Rp85 ribu per kilogram.

“Harganya lagi tinggi, jadi kami lebih pilih nyari gurita, mancing ikan tongkol di laut lepas tunggu cuaca bagus,” ujarnya belum lama ini.

Meski berburu gurita dengan cara tradisional, dengan pengalaman dan kesabaran. Para nelayan di Natuna mendapat hasil memuaskan. Dalam sehari, hasil tangkapan bisa menghasilkan Rp200 ribu hingga lebih dari Rp1 juta, tergantung banyaknya gurita yang didapat.

Harga jual gurita dari penampung bervariasi, ukuran A (2 kilogram ke atas) Rp85 ribu/kg, ukuran B (1–2 kg) Rp75 ribu/kg, ukuran C (0,5–1 kg) Rp65 ribu/kg, dan ukuran kecil di bawah 0,5 kg Rp55 ribu/kg.

Para nelayan berharap harga gurita tetap stabil agar mereka bisa terus melaut.

“Semoga aja harganya begini terus, kalau bisa malah naik,” kata Madi.

Menjelang siang, pantai-pantai di Sepempang mulai ramai. Di bawah terik matahari, tampak para penyelam membawa tombak gurita dan ember plastik, menyusuri karang dangkal yang jernih. Setiap kali seekor gurita ditemukan bersembunyi di celah batu, sorak kecil terdengar dari permukaan air.

Bagi nelayan lokal, laut Natuna bukan sekadar sumber rezeki, melainkan ruang hidup yang mesti dijaga agar tetap memberi kehidupan di musim apa pun. (Man)

Advertisement

Trending