Connect with us

Batam

Genjot Daya Saing Batam, Kadin Kepri Desak Pemerintah Benahi Pelabuhan Batuampar

Published

on

Olfa Yonson, Wakil Ketua Bidang Perhubungan Kadin Provinsi Kepri Kepri.

Batam, Kabarbatam.com – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kepulauan Riau menilai, peran pelabuhan sebagai akses keluar masuk barang sangat penting dan vital, terutama di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.
Keberadaan pelabuhan yang layak tentu berpengaruh terhadap kelancaran arus barang dan biaya bongkar muat yang kompetitif.
Demikian disampaikan Olfa Yonson, Wakil Ketua Bidang Perhubungan Kadin Provinsi Kepri Kepri, Sabtu (2/1/2021).
Terkait dengan hal tersebut, Kadin Kepri menyoroti kondisi Pelabuhan Batuampar karena rencana pembenahan dan pengembangan pelabuhan tersebut sudah bertahun-tahun belum juga selesai.
Olfa Yonson, mengatakan, tanpa sarana pelabuhan yang layak maka sulit bagi Batam untuk bersaing dengan kawasan investasi lain terutama di era yang serba cepat dan berorientasi teknologi.
“Saat ini hampir semua pelabuhan di dunia menerapkan teknologi tinggi dalam pelayanan pelabuhan. Ini fungsinya untuk mempercepat dan mempermudah pelayanan bongkar muat kontainer sehingga lebih berdaya saing.” ujarnya.
Namun, apa yang terjadi di Batuampar, papar Olfa, sebenarnya cukup memprihatinkan. Sebagai pintu masuk utama FTZ Batam, seharusnya Batuampar sudah berbenah dan memiliki fasilitas yang layak sehingga tidak saja layanan alih kapal yang dapat diterapkan namun juga bisa melakukan ekspor langsung ke negara tujuan tanpa perlu singgah ke Malaysia atau Singapura lagi.
“Melayani akses direct call kapal ekspor tentu membutuhkan dukungan sarana dan prasarana yang berstandard internasional seperti system informasi, lapangan penumpukan dan gantry crane,” paparnya.
Dikatakan Olfa, kapal kontainer yang memiliki dimensi lebih besar dan panjang memerlukan crane yang memadai, tidak seperti yang ada seperti saat ini di Pelabuhan.
“Masalah ini harus diselesaikan. Pengelola Batuampar harus serius memikirkan rencana strategis pengembangan dan pembenahan Pelabuhan pada masa datang. Persaingan antar kawasan makin ketat,” tegasnya.
Badan Pengusahaan Kawasan FTZ Batam selaku pengelola Pelabuhan Batuampar, sambung Olfa, sebenarnya telah menjalin kerjasama dengan Pelindo II untuk pengembangan Batuampar.
“Namun kerjasama tersebut dikabarkan telah berakhir sehingga kelanjutan nasib pengembangan Batuampar semakin tidak jelas,” ungkapnya.
Kadin Kepri sendiri telah mengirimkan surat kepada Komisi V DPR RI agar segera dibuat rapat dengar pendapat dengan mengundang pihak-pihak terkait seperti Kemenko Perekonomian, Kemenhub, Kemenkeu, BUMN, dan BP Batam untuk menindaklanjuti rencana pengembangan Batuampar.
Olfa mengatakan bahwa Kadin Kepri berkepentingan dengan masalah ini karena pelaku usaha berharap tarif layanan dan logistic di Batuampar bisa ditekan dan lebih kompetitif.
“Apalagi Kadin Kepri telah meluncurkan paket ekonomi BBK Murah yang salah satunya berisi jaminan biaya murah bagi calon investor yang ingin berinvestasi di Kepri.”
“Tentu akan kontraproduktif dengan program kami jika ternyata masih ada tarif layanan publik yang mahal dan tidak kompetitif, salah satunya di Pelabuhan. Ini yang mendorong kami agar pemerintah segera melakukan pembenahan di Batu Ampar,” terang Olfa.
Pelabuhan Batuampar sampai 2019 lalu melayani kapal asing dan domestic sebanyak 6.038 unit atau menurun dibandingkan 2017 sebanyak 7.007 unit dan 2018 sebanyak 6.897 unit. Namun jumlah arus bongkar muat container dari kapal domestic dan asing yang masuk justru meningkat pada 2019 sebanyak 295.201 TEUs dibandingkan 2017 dan 2018 masing-masing 257.209 TEUs dan 234.222 TEUs.
Dikatakan Olfa, Batuampar memiliki enam dermaga di sebelah selatan, timur, dan utara dengan total panjang 1.932 meter dan lebar mulai 25 – 30 meter. Kedalaman rata-rata alur 9 meter.
“Fasilitas bongkar muat Pelabuhan masih dilayani secara manual oleh perusahaan penyedia crane yang melayani container dalam jumlah terbatas setiap harinya,” pungkasnya. (*)

Advertisement


Trending