Connect with us

Headline

Puisi Haru dari Rumah Bahagia Bintan, Dimanakah Mereka yang Kutimang-timang Dahulu?

redaksi.kabarbatamnews

Published

on

Img 20240208 Wa0585
pengurus PWI Kepri yang dipimpin oleh Sekretaris dan Bendahara PWI Kepri, Amril dan Ady Indra Pawennari, serta Ketua Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2024 PWI Kepri, Henky Mohari memberikan bantuan kepada penghuni Rumah Bahagia Bintan di Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan.

Bintan, Kabarbatam.com – Hidup ini bagaikan mentari dari timur ke barat.
Dimanakah mereka yang kutimang-timang dahulu. Diimanakah mereka yang kuberi kasih sayang dahulu 

Kini hanya doa yang dapat kuberikan untuk mereka. Mentari pun akan tenggelam
Hati yang susah tiada lagi.

Kepada sesama kita saling sayang menyayangi. Kepada ilahi hidup ini kuserahkan. Senja yang indah selalu kunanti.

Itulah penggalan puisi yang dibacakan oleh Juriah (74 tahun), seorang nenek lanjut usia (Lansia) penghuni Rumah Bahagia Bintan di Kelurahan Kawal, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau (Kepri) saat menyambut kedatangan rombongan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepri, Kamis (8/2/2024).

Screenshot 20240208 210351 Whatsapp

Hampir semua rombongan pengurus PWI Kepri yang dipimpin oleh Sekretaris dan Bendahara PWI Kepri, Amril dan Ady Indra Pawennari, serta Ketua Panitia Hari Pers Nasional (HPN) 2024 PWI Kepri, Henky Mohari, larut dalam kesedihan saat mendengarkan lantunan puisi nenek Juriah yang dibacakan dengan penuh penghayatan itu.

Tampak salah satu pengurus PWI Kepri, Dwi Komalawaty tak dapat membendung air matanya. Begitu juga dengan Bendahara PWI Kepri, Ady Indra Pawennari. Matanya berkaca-kaca menahan haru yang berkecamuk di dalam batinnya. Bahkan, sebagian dari Lansia penghuni Rumah Bahagia itu, juga menteskan air matanya.

Img 20240208 Wa0586

“Jujur, aku tak dapat menahan haru ketika nenek itu sampai pada penggalan puisinya, dimanakah mereka yang kutimang-timang dahulu dan dimanakah mereka yang kuberi kasih sayang dahulu. Itu sedih banget. Langsung terbayang orang tuaku,” komentar Dwi Komalawaty usai mendengarkan puisi nenek Juriah yang mengaku berasal dari Desa Penaga, Kecamatan Teluk Bintan itu.

Ketua Harian Pengurus Rumah Bahagia Bintan, Mariani (67 tahun) mengatakan, jumlah Lansia yang berada di bawah pengasuhannya sebanyak 40 orang, yang terdiri dari laki-laki 20 orang dan perempuan 20 orang.

Screenshot 20240208 210439 Whatsapp

“Rumah Bahagia ini berdiri sejak tahun 2007 atau 17 tahun yang lalu. Mereka (para Lansia) ini berasal dari berbagai suku atau etnis. Ada Melayu, Jawa, Batak, Minang, Buton dan China. Yang tertua nenek Embun (91 tahun) dari Tembeling dan termuda nenek Sanam (64 tahun) dari Toapaya. Mereka ke sini setelah melalui seleksi yang cukup ketat oleh Dinas Sosial Kabupaten Bintan,” katanya.

Banyak kisah haru yang menyayat hati dari cerita para Lansia yang diasuh di Rumah Bahagia Bintan itu. Namun, tak semua cerita itu dapat ditulis dengan pertimbangan kemanusiaan. Mereka tak ingin lagi mengungkit luka lama karena merasa sudah “Bahagia” di Rumah Bahagia.

Img 20240208 Wa0587

Rombongan pengurus PWI Kepri berada di Rumah Bahagia Bintan tersebut, untuk menyerahkan bantuan PWI Kepri Peduli dalam rangka menyambut HPN yang jatuh pada tanggal 9 Februari 2024. Bantuan PWI Kepri Peduli itu, berupa pampers untuk 40 orang Lansia penghuni Rumah Bahagia Bintan. (ady indra pawennari)

Advertisement

Trending