Connect with us

Headline

Rodhial Huda: Natuna Kehilangan Golden Moment sebagai Kawasan Ekonomi Terpadu

redaksi.kabarbatamnews

Published

on

Img 20240425 Wa0073

Natuna, Kabarbatam.com – Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan Derah (BP3D) Kabupaten Natuna menggelar musrenbang rencana pembangunan jangka panjang daerah, di Ballroom Jelita Sejuba, Kamis (25/4).

Musrenbang yang dihadiri berbagai pihak berkepentingan tersebut dibuka Wakil Bupati Natuna Rodhial Huda. Dalam sambutannya, Rodhial mengingatkan, agar pemerintah daerah tidak lengah dalam menyusun perencanaan pembangunan selama 20 tahun mendatang.

Rodhial menilai, Natuna sudah tiga kali kehilangan momen emas. Pertama di tahun 80 an melalui gerakan Nusantara untuk meramaikan daerah perbatasan guna meningkatkan ekonomi daerah.

Golden moment kedua, sambungnya, yakni tahun 1996. pemerintah pusat melalui Presiden Soeharto mengeluarkan Kepres nomor 71 tentang pembangunan pulau Natuna sebagai kawasan pengembangan ekonomi terpadu.

“Motto ini jauh lebih bagus dari Batam, Natuna adalah jalur perdagangan internasional. Namun tahun 1998 terjadi krisis moneter, momen ini hilang di Natuna,” ungkap Rodhial.

Golden moment ketiga, tambahnya, pada bulan Juni tahun 2016. Yaitu kelautan perikanan pariwisata, migas, pertahanan keamanan dan lingkungan hidup. “Tapi sampai hari ini tidak ada regulasi yang secara konferensif untuk memaksa kementerian dan lembaga terkait untuk menjadikan Natuna sebagai daerah agau kawasan seperti yang dicita-citakan.

“Maka ketika Pak Bupati dan saya memimpin, saya mempunyai satu sisi yang ada, mengarah kepada itu. membangun bangunan berupa Kabupaten majemuk. Jadi kalau modern itu mirip-mirip menggabungkan antara pariwisata perikanan dan militer tetapi itu membutuhkan anggaran yang sangat banyak,” ujarnya.

Rodhial mengaku, tetap berharap pemerintah pusat kembali melihat Natuna atau membangun Natuna seperti rancangan-rancangan sebelumnya.

Menjadikan Natuna sebuah daerah otoritas atau menjadi sebuah provinsi khusus. Karena letak Natuna yang sangat strategis.

“Dalam pengaturannya, Natuna itu jauh dan berada di perbatasan. Tetapi Amerika dan China melihatnya berbeda,” ujar Rodhial.. (*)

Advertisement

Trending