Connect with us

Kepri

Terkait Perlindungan Karya Seni Budaya, Unsri Kunjungi LAM Lingga

redaksi.kabarbatamnews

Published

on

F71651504

Lingga, KABARBATAM.com – Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya mengagendakan penyuluhan di bidang pemajuan kebudayaan. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pelaksanakan Tri Dharma perguruan tinggi bidang pengabdian masyarakat.
Rombongan yang dipimpin Ketua Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Sriwijaya mengunjungi 4 lokasi, yakni SMA 1 Lingga tentang perlindungan konsumen, SMK 2 terkiat HAM, MA YPKL HA dalam Islam, dan di LAM (Lembaga Adat Melayu) tentang Pemajuan Kebudayaan.
“Tujuan kedatangan kita adalah untuk memberikan penyuluhan hukum perlindungan karya seni sebagai objek pemajuan kebudayaan. Konsen kita melestarikan budaya, menginventarisir budaya, mendaftarkan hak cipta,” kata Dr. Annalisa, Sabtu (26/10/2019) di Balai LAM Lingga.
Lanjut Annalisa, jangan sampai produk yang dihasilkan di Daik dibiarkan begitu saja. “Rugi kita, tiba-tiba orang lain yang mengklaim milik mereka. Silahkan inventarisir semua karya seni yang ada kemudian kita check di Kemenkumham. Kalau memang belum segera daftarkan,” kata nya.

“Jangan sampai, kita mengira sudah didaftarkan ternyata belum. Silahkan berkoordinasi dengan Pemda. Boleh didaftarkan sebagai milik masyarakat, bisa juga mendaftarkan hak cipta milik sendiri. Untuk hak cipta itu masa kepemilikannya 50 tahun. Jadi, kalau ada yang mau menggunakan dipersilahkan, tentu ada nilai ekonomisnya, tergantung kesepakatan para pihak lagi berapa nilai ekonomisnya,” kata Annalisa.
Kedepan direncanakan akan membuat pameran bersama, agar karya seni ini tidak mati.
“Saya dapat informasi, semakin lama perhatian terhadap karya seni semakin menurun. Oleh karena itu, perlu kita sikapi bersama. Kalau memang pengerajin perlu modal, pemerintah daerah boleh membantu disiapkan dan khusus untuk itu supaya budaya ini tetap berkembang,” imbuhnya.

Menurutnya Saat ini budaya orang Indonesia sudah banyak ditiru, untuk itu budaya yang ada wajib dilestarikan, budaya juga sama dengan sebuah investasi, jangan sampai hilang tak berbekas.
“Anak muda saat ini sudah mulai malas untuk mempelajari budaya. Mereka lebih suka dia bermain game yang lebih menjanjikan kecanggihannya tapi lupa dengan budaya sendiri,” katanya.
Diketahuibrombongan dari Universitas Sriwijaya sebanyak 7 orang yang terdiri dari 3 dosen dan 4 mahasiswa.

“Mereka dilibatkan dalam pengabdian penelitian, kita ajak untuk membantu merumuskan masalah yang kira-kira apa yang harus diselesaikan. Nantinya dari kunjungan ini, kita mau bikin buku-buku terhadap apa yang sudah kita lakukan di sini. Mungkin lebih banyak muncul di bidang budayanya. Untuk itu, kami perlu nanti data-data tentang profil Lingga,” ungkapnya.
Lanjut Annisa, jika di Palembang ada yang namanya Misfa’ kain tersebut lebih pendek dari tudung manto, bahannya hampir mirip dengan sifon dan klingkam. Klingkam di datangkan dari Turki. Kalau di Lingga biasa menyebutnya klingkan.
Selain misfa’ ada juga yang namanya mudawaroh. Ukurannya lebih panjang dan tentu harganya lebih mahal. Biasanya dipakai oleh wanita yang pulang dari Tanah Suci setelah menunaikan ibadah haji. Turun dari pesawat langsung dipakai dan diarak hingga sampai kekediaman.
Ia berpesan kepada para pengrajin tudong manto agar menurunkan ilmunya. “Jangan sampai hilang dan mati. Paling penting adalah segera daftarkan di Kemenkumham terkait hak kekayaan intelektual tudung manto,” katanya.
Diakhir acara tersebut, Said Asyari memberikan cinderamata beberapa buah buku karya penulis Bunda Tanah Melayu kepada ketua rombongan. Salah satunya buku tudung manto dan rombongan Unsri berjanji akan segera membuat buku tandingan dengan judul mudawaroh. Setelah bukunya selesai akan dikirim langsung ke Lingga.(Fikri)

Advertisement

Trending